BERSATU (SONGLIT INDONESIA RAYA)





Perempuan berumur sekitar empat belas tahun mengenakan seragam putih merah panjang, juga berkerudung. Ia baru saja keluar dari kamar, kemudian menemui Ibunya. Perempuan yang menginjak kelas satu SMP itu kemudian duduk di meja makan. Rasa lapar sudah mulai menyerangnya.

“Kamu mau ke mana, Tari? Bukankah hari ini seharusnya libur?” tanya sang ibu.

“Upacara dong, Bu. Kan memperingati Kemerdekaan Indonesia,” jawab perempuan yang dipanggil Tari.

“Oh iya. Kalau begitu kamu makan yang banyak, biar kuat upacaranya.”

Tari pun mengambil piring dan segera mengisikan nasi dan telor ceplok. Ibu Tari hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya. “Kenapa kamu begitu semangat? Biasanya kalau disuruh upacara pada malas,” tanya Ibu Tari.

“Hari ini aku kebagian paduan suara, Bu. Yang nyanyi Indonesia Raya,” jawab Tari.

“Wah, anak Ibu pandai nyanyi sepertinya.”

“Kan sekelas, Bu. Bukan aku sendirian yang nyanyi.”

Sambil berbincang, Ibu Tari memberikan segelas susu. Tari sibuk melahap makannya dengan nikmat.

***

“Indonesia Tanar Airku. Tanah tumpah darahku.” Sebelum upacara dimulai, Tari sibuk berlatih menyanyi.

“Siapa yang mau jadi dirigen menggantikan Vanya?” tanya Dwi tiba-tiba.

Tari dan teman sekelasnya masih berkumpul di dalam kelas. “Memangnya Vanya kenapa?” tanya Tari.

“Dia sedang tidak enak badan, tadi buru-buru ke UKS,” jawab Dwi.

“Kamu saja, Dwi! Kamu kan ketua kelas,” ucap Mirna yang duduk di samping Tari.

“Tidak mau. Bagaimana kalau kamu saja!” Dwi menggeleng.

“Kok aku? Tidak mau. Sudah kamu sajalah, Dwi,” tegas Mirna.

“Kok kamu ngegas, sih? Aku kan ketuanya, jadi kamu harus nurut sama aku! Kamu saja, ya! Bagaimana yang lain?”

“Setuju!” Serempak murid menyetujui.

“Tidak mau. Enak saja.” Marni terlihat kesal. “Pokoknya jangan aku!”

“Kamu? Kenapa tidak mau? Sok banget sih,” ucap Dwi yang juga kesal.

“Sudah sudah!!” Tari menengahkan. “Kok kalian jadi bertengkar? Sebentar lagi upacara mau dimulai. Bukan saatnya untuk ribut. Ingat! Ini kan hari Kemerdekaan. Kita tuh harusnya bersatu. Kalian suit saja! Siapa yang kalah harus mau jadi dirigen.”

Ide Tari membuat Dwi dan Marni kembali berpikir. Seharusnya memang tidak perlu ada keributan di antara mereka. Dwi dan Marni akhirnya mengikuti saran Tari untuk melakukan suit. Keduanya mengepalkan tangan kemudian mengeluarkan salah satu dari batu kertas gunting. Dwi menunjukkan gunting, sedangkan Marni masih tetap mengepal. Dwi menghela nafas kencang. Ia harus menerima kekalahan dan bersedia menjadi dirigen.

Upacara pun dimulai. Tari dan teman sekelasnya sudah siap di barisan paduan suara. Proses upacara berjalan lancar hingga sampai pada pengibaran bendera diiringi lagu Indonesia Raya. Sambil hormat, Tari dan teman-temannya menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh Dwi sebagai dirigen.

Nyanyian Indonesia Raya menggema hingga ke seluruh lapangan, memberi semangat kepada pengibar bendera dan peserta upacara. Mengingatkan akan perjuangan pahlawan yang berjuang membela Tanah Air.

Selesai upacara, Tari pun melepas lelah setelah berdiri  berpuluh-puluh menit. Begitu juga teman sekelas Tari yang juga berisitirahat, duduk di dalam kelas. “Wah, Dwi hebat ternyata sebagai dirigen. Keren,” ucap Rini yang duduk di sebelah Dwi.

“Kamu terlalu memuji, biasa saja kok.” Dwi berusaha merendah.

“Betul tuh, Dwi memang the best,” ucap Tari menambahkan.

“Iya, tidak menyangka loh kalau Dwi bisa jadi dirigen.” Marni pun melanjutkan.

“Aku tidak sehebat itu, kok. Kalian juga hebat kok menyanyinya, kompak. Terima kasih atas semangat kalian semua.”

Bekasi, 12 Oktober 2019
Dibuat oleh Mustika Dewi

No comments:

Powered by Blogger.